1

Welcome to My Blog Gladys Suwandi

Senin, 24 Februari 2014

beberapa macam makanan maluku

sumber:https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR0k7pl2qsUf3wUpUdEr1hmQ0zpYoDU-MEX5tv1TEfSP7UifbHycQ

Sumber:https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSXbvt1LTNJ1NUuVNdCaxw2l1mXJkX2trxskO_hpkVbtyotFlvEiQ


makanan maluku


Popeda Ulang-Ulang Karedok Kohu-Kohu- Maluku

Agak sulit untuk menemukan makanan yang benar-benar khas Ternate. Karena letak geografisnya yang lebih dekat ke Sulawesi Utara, sudah barang tentu makanan Ternate banyak dipengaruhi – dan sekaligus juga memengaruhi – makanan khas Sulawesi Utara. Tetapi, karena Ternate merupakan gugus kepulauan Maluku Utara, maka tentulah pula makanan khas Maluku mudah dijumpai di Ternate.

Hampir semua masakan Ternate melibatkan kenari, baik sebagai bumbu ulek, maupun dirajang kasar.

Salah satu masakan khas Ternate adalah gohu ikan. Penyebutannya harus lengkap: gohu ikan. Soalnya, kalau hanya disebut gohu, maka artinya adalah rujak pepaya muda yang juga populer di Sulawesi Utara. Gohu ikan khas Ternate dibuat dari ikan tuna mentah. Tidak heran bila banyak orang menyebutnya sebagai sashimi Ternate.

Ternyata, di daerah pesisir Sulawesi Utara – misalnya di Bitung – dapat pula dijumpai sajian seperti ini. Namanya hanya dibalik: ikan gohu. Barangkali kesegaran sajian inilah yang membuatnya menyandang nama gohu yang berarti rujak.

Umumnya, di Ternate, gohu ikan dibuat dari ikan tuna (yellowfin tuna = Thunnus albacares). Bila tuna sedang tidak musim, ikan cakalang (skipjack) juga dapat dipakai – sekalipun teksturnya tidak semulus tuna.

Daging tuna segar (baca: mentah!) dipotong kecil-kecil, dicuci, kemudian dilumuri dengan garam dan perasan lemon cui (semacam jeruk nipis yang harum dan dalamnya berwarna kuning-jingga), kemudian dicampur dengan rajangan kasar daun balakama (kemangi). Bawang merah dan cabe rawit (disebut rica gufu di Ternate) dirajang kasar, lalu ditumis dengan sedikit minyak kelapa. Minyak kelapa panas dengan bawang merah dan cabe rawit ini kemudian dituangkan ke potongan ikan tuna mentah. Kemudian ditaburi kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar.

Sudah terbayang rasanya? Top markotop!

Kalau Anda pernah ke Hawaii, kemungkinan besar Anda pernah ketemu sajian seperti ini. Bedanya, di sana tidak memakai cabe rawit maupun kacang tanah goreng. Di Hawaii kemanginya diganti dengan wakame alias rumput laut. Sajian ini terkenal di Hawaii dengan nama onopoke.

Saya juga pernah menemukan sajian yang sangat mirip dengan gohu ikan ini – minus cabe rawit – di General Santos City, Filipina Selatan. Di sana, sajian populer ini disebut kinilauw. Rupanya, masakan seperti gohu ikan Ternate ini telah menjadi ciri khas atau tradisi masyarakat-masyarakat kepulauan. Kinilauw hanya memakai tuna yang dipotong kubus, dilumuri dengan garam, dicampur dengan rajangan kasar bawang merah dan tomat, lalu dikucuri perasan jeruk nipis.

Gatang Kenari

Bicara tentang kuliner Ternate, kebanyakan orang akan langsung menyebut gatang kanari (ketam kenari = kepiting kenari). Di masa lalu, saya pernah mencicipi kepiting yang penampilannya mirip satwa purba ini. Sekarang, kepiting kenari sudah dicantumkan sebagai satwa yang dilindungi. Anehnya, masih terjadi ambiguitas untuk menegakkan aturan ini. Konon, demi pariwisata, beberapa restoran di Ternate mendapat izin khusus untuk menyajikan masakan dari kepiting kenari.

Herannya pula, ada dua Presiden Republik Indonesia (namanya saya catat untuk kepentingan pribadi!) yang sangat menyukai kepiting kenari. Para pejabat Pemerintah setempat pun dikabarkan sering membawa oleh-oleh kepiting kenari untuk atasan mereka di Jakarta – seolah-olah peraturan tentang kelestarian lingkungan tidak berlaku bagi para pejabat.

Harga kepiting kenari ini cukup mahal. Yang berukuran super (sekitar 2 kilogram bobot hidup), dihargai sekitar Rp 350 ribu. Bagi orang kaya, harga sedemikian tidak ada artinya. Maklum, satu kilo daging Wagyu harganya sekitar Rp 700 ribu. Artinya, harga kepiting kenari yang sedemikian “murah” tidak akan menyelamatkannya dari kepunahan.

Beberapa restoran sering menyatakan bahwa mereka menyediakan kepiting kenari hasil budidaya. Ini adalah cerita bohong. Kepiting kenari sulit ditangkar. Kini, kebanyakan kepiting kenari ditangkap di alam di Halmahera, lalu dijual ke beberapa restoran khusus di Ternate.

Kepiting kenari adalah satwa darat yang pintar memetik dan mengupas buah kelapa, serta menjadikannya makanan kegemaran mereka. Karena itulah kepiting kenari dianggap lebih gurih dan manis dagingnya dibanding kepiting biasa.

Sumber:http://makanankhasmalukuutara.blogspot.com/

pemandangan perairan maluku

 sumber:https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTNY9D0NiIi9yaRgpBZqA0190ZKuPe0238w_6OiFMfT0-eWdqF9


sumber:https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSZ2hn8oA6GdtG9XFBgSLgAB13ySZjJwa7Ianpsdrimk1Ox3TLLQw




sumber:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQxCLs2VUTrYJn1k5s8WTXcs7TBF6cAGCqmEUA7M7taD-u7CGVt

Sistem Monopoli VOC di Kepulauan Maluku



Suatu ciri lain sistem perdagangan VOC adalah yang dinamakan partnership(kemitraan). VOC mengupayakan suatu sistem monopoli atas rempah-rempah dengan cara membina kemitraan dengan para penguasa lokal. Sampai sekitar pertengahan abad ke-16 kemitraan itu berhasil dibangun karena para penguasa lokal membutuhkan VOC untuk memerangi bangsa Portugis.Pihak VOC juga berkepentingan secara ekonomis (dagang) maupun secara politis untuk memerangi bangsa Portugis. Hal ini disebabkan adanya kepentingan bersama dalam menghadapi Portugis, walau pada pihak VOC ada tambahan kepentingan dagang sedangkan pada pihak penguasa lokal praktis unsur ekonomi itu tidak ada.
Setelah dominasi Portugis lenyap dari Nusantara karena dilawan VOC, sejak sekitar pertengahan abad ke-16 kemitraan itu dibangun oleh VOC dengan salah satu pihak yang bertikai dalam suatu kerajaan tertentu. Sistem kemitraan itu didukung oleh sistem perbentengan dan armada.
Contoh-contoh yang baik dari kemitraan jenis pertama tersebut adalah antara VOC dengan Ternate. Pada tahun 1570 Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Maluku Utara. Sementara itu, di Portugis terjadi perubahan politik yang berdampak di Maluku.Pada tahun 1580 Raja Spanyol, Philip II, berhasil merebut tahta Portugis dan memerintah dua kerajaan sekaligus. Oleh karena itu, Madrid memerintahkan agar Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Dom Pedro da Cunha, bersama Tidore (sekutu Spanyol) menduduki Ternate, dengan mengerahkan sebuah   pasukan yang sangat besar (3.095 orang)  pada bulan Maret 1606. Sultan Said berhasil melarikan diri bersama sejumlah pejabat kerajaan, sementara da Cunha meeruskan ekspedisi ke wilayah-wilayah Ternate lainnya serta Bacan. Sultan Said akhirnya berhasil dibujuk untuk kembali ke Ternate dan menandatangani sebuah perjanjian dengan Spanyol yang antara lain menetapkan bahwa kerajaan Ternate mengakui kekuasaan dan memberi hak monopoli cengkeh kepada Spanyol. Sebelum kembali ke Manila, da Cunha menempatkan pasukan di benteng Gamalama (yang dibangun Portugis, tetapi sejak 1575 digunakan oleh sultan-sultan Ternate), Sultan Said bersama sejumlah bangsawan Ternate dibawa pula ke Manila sebagai sandera.
Sementara itu, pihak-pihak yang menolak kekuasaan Spanyol mengetahui bahwa di Banten telah tiba sebuah armada Portugis dari negeri Belanda. Seorang bangsawan dikirim sebagai utusan untuk meminta bantuan Belanda mengusir Spanyol dari Ternate dengan imbalan monopoli cengkeh.Laksamana Cornelis Matelieff menyetujui permintan itu dengan syarat Ternate menyertakan 1.500 pasukan untuk membantu armadanya. Karena bantuan Ternate hanya beberapa ratus orang, Matelieff memutuskan untuk tidak menyerang Gamalama, tetapi membangun benteng baru di pantai Malayu berseberangan dengan benteng Spanyol tersebut. Benteng VOC itu kemudian dikenal dengan nama Fort Oranye. Matelieff mengharuskan Sultan Muzafar Syah menandatangani sebuah perjanjian (kontrak) yang antara lain menetapkan bahwa VOC akan menjaga keamanan Ternate terhadap Spanyol dengan imbalan monopoli cengkeh di seluruh kerajaan Ternate.
Untuk kepentingan pertahanan itu dalam waktu singkat VOC membangun benteng-benteng lain kecuali Fort Oranye. Di Pulau Moti dibangun Fort Nassau, di Pulau Ternate dibangun benteng kedua di Takome, yaitu Fort Willemstad. Benteng Spanyol di Pulau Bacan direbut dan diberi namaFort Barnevelt. Dalam waktu dua tahun VOC berhasil membangun tembok-tembok pertahanan (fortification) selain benteng-benteng tersebut yang dipertahankan oleh 500 tentara, yaitu di Taloko, Takome dan Kalamata di Pulau Ternate, Tapasoho, Ngofakiaha dan Tabalola di Pulau Makian, dan beberapa lagi di Jailolo (Halmahera) dan Pulau Tidore.
Kebijakan monopoli cengkeh VOC di Maluku mengalami perubahan di sekitar tahun 1650-an. Perubahan itu sudah tampak sejak Sultan Hamzah (1627-1648), adik Sultan Baabullah, masih muda. Ketika Gubernur Jenderal Spanyol Pedro da Cunha menyandera Sultan Said ke Manila, Hamzah termasuk dalam rombongan itu. Ia baru kembali ke Ternate sekitar 1627 dan langsung dipilih oleh Dewan Kerajaan sebagai Sultan. Selama berada di Manila rupanya ia tertarik pada cara Spanyol memerintah di Filipina, yaitu mencoba menerapkan sistem pemerintahan tangan besi itu dan mengabaikan kebiasaan para sultan sebelumnya yang senantiasa bermusyawarah dan bermufakat dengan para bangsawan di Ternate.
Salah satu hambatan yang dihadapi Hamzah untuk melaksanakan cara pemerintahan yang otoratis itu adalah perlawanan dari keluarga Tomagola yang sejak abad ke-16 telah diberi hak untuk berkuasa di Jazirah Hoamoal di Seram dan di pulau-pulau sekitarnya, termasuk di Jazirah Hitu (di Pulau Ambon). Pusat kekuasaan Tomagola di Hoamoal itu terletak di negeri Luhu yang juga merupakan pelabuhan ekspor cengkeh utama di masa itu.Keluarga Tomagola adalah salah satu dari empat keluarga bangsawan yang menentukan politik kerajaan Ternate. Tiga keluarga lainnya adalah Tomaitu, Marsaoli, dan Lumatau yang disebut sebagai "Fala Raha" (empat rumah) yang berpengaruh dalam politik Ternate. Sultan Ternate selalu dipilih dari salah satu "rumah" itu.Hamzah sendiri adalah seorang Tomagola.Untuk menghilangkan otonomi dari keluarga Tomagola di Hoamoal dan Hitu, Hamzah mengatakan bahwa mereka dibutuhkan di Ternate sebagai penasihat sultan.Keinginan Hamzah itu selalu ditolak oleh keluarga Tomagola.  Oleh karena itu, Hamzah mencari jalan lain untuk mematahkan kekuasan Tomagola dengan cara meminta gubernur VOC di Ambon untuk memerintah di Hoamoal dan Hitu atas namanya.
VOC sangat gembira dengan tindakan Sultan Hamzah itu karena Hoamoal dan Hitu selalu menjadi titik lemah sistem monopolinya di Kepulauan Ambon. Para pedagang Eropa dari Makassar senantiasa mengirim para nakhoda Bugis dan Makassar untuk membeli cengkeh secara tersembunyi di kedua wilayah itu untuk dijual kembali kepada para pedagang Eropa. Hal itu juga dilakukan oleh para pedagang dari kepulauan Banda.
Sepeninggal Hamzah pada tahun 1648, Dewan Kerajaan memilih sebagai sultan putranya yang tertua yang bernama Mandar Syah (1648-1675).Berbeda dengan ayahnya, Mandar Syah adalah seorang sultan yang sangat lemah. Untuk mempertahankan diri ia membina kerja sama yang sangat erat dengan VOC. Sikap itu mendapat kecaman dari para anggota Dewan Kerajaan, dan pada tahun 1950 menurunkan Mandar Syah dan menggantikannya dengan adiknya, Kaicili Manilha, yang oleh pihak VOC dianggap "tidak sanggup mengendalikan pikirannya" . Pihak-pihak yang menentang Mandar Syah adalah Kaicili (gelar bangsawan keluarga sultan) Said dan Hukum (kadi atau pemimpin agama) Laulata dari keluarga Tomagola, Kimelaha (kepala distrik atau sama dengan bupati) Terbile dari keluarga Tomaitu, Jougugu (menteri utama) Kaicili Musa dan Kimelaha Marsaoli dari keluarga Marsaoli. Sultan Mandar Syah melarikan diri ke Fort Oranye dan meminta perlindungan VOC, dan dengan bantuan VOC ia dapat dipulihkan kembali sebagai sultan Ternate pada tahun 1655.
Sementara itu, pada tanggal 31 Januari 1652 Mandar Syah menandatangani sebuah perjanjian (kontrak) dengan VOC dalam Fort Oranye. Dalam perjanjian itu Ternate menerima keinginan VOC agar di kerajaan itu tidak diperdagangkan cengkeh. Untuk mengawasi pelaksanaan ketentuan itu, VOC diizinkan setiap tahun melaksanakan patroli dengan sebuah armada yang terdiri dari kontingen VOC dan kontingen Ternate. Ekspedisi pemeriksaan cengkeh itulah yang dikenal dengan nama hongitochten (Pelayaran Hongi).Pohon cengkeh (yang berbuah maupun tidak) akan ditebang oleh tentara ekspedisi itu. Penebangan pohon-pohon cengkeh itu dikenal dengan sebutan extierpatie.
Pelaksanaan administrasi monopoli di Maluku Utara itu dilakukan oleh sebuah birokrasi yang memusat di kota Ternate. Berbeda dengan di Ambon dan di Banda, di Maluku Utara VOC tidak memiliki administrasi yang tersebar di seluruh wilayah itu.Pemerintahan yang dilakukan oleh aparat tradisional dari ketiga kerajaan (Ternate, Tidore dan Bacan), yang sultannya masing-masing dalam awal abad ke-17 menjadi sekutu VOC, kemudian berubah status menjadi vasal. Sistem pemerintahan VOC di Maluku Utara itu dinamakan Gouvernement der Molukken (Pemerintah Maluku).
Dengan demikian, VOC mengharapkan dapat mengendalikan perdagangan cengkeh secara tuntas dengan menghilangkan para penyelundup cengkeh yang umumnya adalah orang Jawa, Melayu, dan Banda. Selain itu, ekstirpasi pohon cengkeh setiap tahun di Maluku Utara menguntungkan VOC. Dalam pertengahan abad ke-17 sudah terjadi kelebihan produksi cengkeh sehingga harganya di Eropa mulai merosot. Pengurangan produksi di Maluku Utara itu akan menormalkan kembali harga cengkeh di pasaran dunia.
Dalam Perjanjian 1652 antara VOC dan Sultan Mandar Syah ditentukan juga harga beli cengkeh. Selanjutnya VOC akan membayar 50 ringgit (realen) bagi setiap bahar cengkeh yang berukuran 625 pon. Namun, di kemudian hari VOC menghentikan pembayaran dengan ringgit (realen), tetapi dengan bahan-bahan kebutuhan untuk setiap bahar cengkeh. Kebijakan itu diambil karena para pedagang yang mendatangi Ternate lebih tertarik pada ringgit (realen).
Ketentuan lain dari Perjanjian tahun 1652 itu berdampak politik. Dalam perjanjian itu VOC berjanji akan menyerahkan recognitie penningen (pembayaran atas jasa-jasa yang diberikan) pada setiap tahun pada sultan dan para bangsawan. Pembayaran itu merupakan ganti rugi atas penerimaan sultan dan bangsawan Ternate selama itu atas perdagangan cengkeh. Ditentukan bahwa setiap tahun sultan akan menerima 12.000 ringgit dan para bangsawan membagi di antara mereka 1.500 ringgit. Sekalipun dengan para bangsawan tersebut telah dibuat juga sebuah perjanjian pada tanggal 28 Maret 1653 yang mengandung ketentuan itu, dalam kenyataannya VOC menyerahkan seluruh jumlah itu kepada sultan agar bagian dari para bangsawan dibagikan sesuai keinginan sultan. Dengan cara itulah VOC melumpuhkan kekuasaan "Fala Raha" dan memperkuat kedudukan otoriter dari sultan.
Sesungguhnya sejak pertengahan abad ke-17 sultan Ternate (dan Bacan serta Tidore) dapat dikendalikan oleh VOC. Keadaan politik itu diformalkan setelah Gubernur Ternate Padbrugge berhasil mengatasi pemberontakan para bangsawan yang bernama Sultan Sibori pda tanggal 17 Juli 1683. Pada tahun itu sultan dan para bangsawan menandatangani sebuah perjanjian lagi. Dalam perjanjian itu kerajaan Ternate dinyatakan sebagai daerah kekuasaan Belanda karena direbut melalui perang, tetapi para sultan dan bangsawan diperkenankan memerintah terus sebagai vassal dari VOC. Bahkan, VOC mendapat hak untuk mengangkat sultan baru. Dengan pengubahan status politik dari sekutu menjadi bawahan itu, recognitie penningen juga dihapus. Selanjutnya sultan akan menerima 6.400 ringgit setahun untuk pengeluarannya, para pejabat kerajaan bersama-sama menerima 600 ringgit, para pemimpin Pulau Makian bersama-sama menerima 2.000 ringgit dan para penguasa dari Pulau Moti bersama-sama menerima 150 ringgit. Walau jumlah uang itu tidak diberikan untuk penganti penghasilan dari penjualan cengkeh, patut dikatakan disini bahwa kedua pulau itu pernah menjadi produsen cengkeh terbesar di Maluku Utara.
Ketentuan lain dalam Perjanjian 1652 itu adalah bahwa wilayah keluarga Tomagola di Hoamoal dan Hitu dialihkan sepenuhnya dari kerajaan Ternate kepada VOC di kepulauan Ambon. Sejak itu wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Ternate sepenuhnya menjadi wewenang VOC.
Sejak tahun 1695 dapat dikatakan bahwa Portugis sudah terusir dari kepulauan Maluku, meskipun masih menimbulkan kekhawatiran penguasa lokal. Portugis masih memiliki kedudukan di Timor yang sewaktu-waktu dapat mengancam kerajaan-kerajaan di Maluku.Demikian pula dengan keberadaan Spanyol di Tidore. Namun oleh VOC keberadaan Spanyol ini tidak terlalu membahayakan kedudukan Belanda di Maluku. Spanyol juga terusir dari Tidore (Maluku) pada tahun 1663. Inggris di Maluku gagal menghadapi VOC.

Sumber:http://wartasejarah.blogspot.com/2013/07/sistem-monopoli-voc-di-kepulauan-maluku_26.html

perisrtiwa pembantaian



Di Desa Emplawas di Kepulauan Babar, Maluku Tenggara Raya, pada Oktober 1944 terjadi pembantaian brutal terhadap 710 penduduk sipil oleh militer Jepang. Ternyata pada waktu itu desa Emplawas merupakan penghasil tembakau yang besar dengan panen yang cukup besar sekitar 6000 kg per tahunnya.
mengerikan di Emplawas sampai detik ini tidak diketahui publik Indonesia. Kasus ini pernah diangkat media Soeloeh Ra’jat pada 1947 dan Tempo pada 1986. Sejak itu kisah yang nun jauh di Tenggara Raya ini terkubur zaman.

Sumber:http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=11127&type=2#.Uwvy6_nIbnk
 

gempa bumi di maluku

Sejarah Gempa Bumi dan Tsunami di Maluku

index1
GEMPA TEKTONIK berkekuatan 7,3 skala richter yang mengguncang Kepulauan Maluku tanggal 28 Januari 2005 , membangkitkan trauma masa lalu sebagian masyarakat yang mendiami Kepulauan Maluku khususnya Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah. Ketakutan akan gempa susulan disertai tsunami mengingatkan warga akan bencana alam yang pernah terjadi sebelumnya pada 200-an tahun lalu.
Dampak musibah alam saat itu, dua kampung di selatan Pulau Seram yakni Elpaputih dan Amahai tenggelam akibat digulung gelombang pasang tsunami. Warga Amahai yang tersisa memilih eksodus ke arah timur dan mendirikan kampung baru dengan nama Rutah atau Runtuhan Amahai. Ke Rutah, pada pintu masuk kampung itu kita akan mendapati sebuah monumen yang menceritakan musibah tsunami yang dikenal masyarakat setempat sebagai Musibah Seram.
Gempa yang kembali terjadi pada 28 Januari 2005 membuat banyak orang mengungsi karena kuatir terjadi tsunami. Dampak gempa bukan saja menewaskan dua warga akibat panik, yang lebih menggegerkan lagi terjadi patahan tanah di dua wilayah Pulau Seram tepatnya di Kecamatan Tehoru dan Elpaputih.
Kerusakan parah terjadi di Tehoru. Dua rumah warga dan sekitar satu hektar daratan terperosok ke laut akibat patahan di semanjung Dusun Mahu. Sedangkan lima rumah warga lainnya pada lokasi yang sama terancam tenggelam.
Patahan yang terjadi akibat guncangan gempa sepanjang 75 meter, lebar sekitar 50 meter, dan kedalamannya 15 meter. Sedangkan kedalaman patahan pada titik terluar diperkirakan mencapai 80 meter. Selain itu, patahan juga terjadi di bibir pantai dari dusun Mahu hingga desa induk, Tehoru, sepanjang kurang lebih empat kilometer.
Patahan yang sama terjadi di bibir pantai desa Samasuru Tanjung Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah. Panjangnya mencapai 40 meter dengan kedalaman 1 hingga 3 meter. Di Elpaputih, patahan akibat gempa yang terjadi tidak berdampak pada rumah warga di sekitar lokasi itu. Namun, sebagian warga yang tinggal di pesisir pantai masih khawatir untuk kembali ke rumah.
Kepala Badan Geofisika Ambon Benny Sipollo mengatakan, patahan di Tehoru dan Elpaputih karena letak kedua desa berada pada pesisir selatan Pulau Seram, berhadapan langsung dengan Laut Banda yang menjadi pusat gempa.
Menurutnya, kekuatiran warga cukup beralasan sebab tahun 1800-an pernah terjadi tsunami di Pulau Seram yang memakan korban cukup besar. Gelombang tsunami saat itu menghantam pantai selatan Seram Barat sampai ke Tehoru (Maluku Tengah), dengan jarak ratusan kilometer. Ada daerah yang habis tetapi ada daerah yang hanya terkena dampak. Saat itu dua kampung yang tenggelam adalah desa Elpaputih dan Amahai.
Sejarah mencatat, sejak tahun 1830, Maluku pernah dilanda bencana akibat gempa bumi sebanyak 31 kali. Dari bencana itu, 12 kali diantaranya melanda Pulau Ambon dengan kekuatan 5-10 SR. Sedangkan tsunami yang pernah melanda Maluku sebanyak 8 kali, di Ambon terjadi 3 kali. Dengan demikian, Ambon dan sekitarnya termasuk daerah yang sangat rawan goncangan gempa bumi dan juga tsunami.
Kondisi yang membuat wilayah Kepulauan Maluku berpotensi gempa karena menjadi daerah pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yakni Indoaustralia, Eurasia, dan Pasifik. Ketiga lempeng relatif bergerak satu terhadap yang lain sehingga Kepulauan Maluku mengalami aktivitas gempa bumi yang sangat tinggi akibat muncul patahan yang juga merupakan generator aktivitas gempa bumi.
Pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi di Maluku ini pusatnya berada di Laut Banda. Laut terdalam di Indonesia ini memiliki kedalaman sekitar 5.000 meter. Palungnya mencapai kedalaman sekitar 7.000 meter.
Kondisi lempeng tektonik yang bertemu pada wilayah kepulauan Maluku menjadikan wilayah ini sangat rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Salah satu kekhawatiran penduduk Maluku khususnya di wilayah Maluku Tengah adalah gempa berkekuatan 7,3 SR yang terjadi pada Sabtu dinihari itu membuat tsunami, terang Benny.
Tsunami bisa terjadi jika pusat gempa berada di bawah laut dengan kekuatan guncangan di atas 6,2 SR. Syarat lainnya, kedalaman lebih kecil dari 60 kilometer. Untungnya, gempa tektonik yang terjadi pada Sabtu dinihari tidak memenuhi syarat sepenuhnya untuk menciptakan tsunami. Karena pusat gempa berada di Laut Banda dengan kedalaman episentrum 330 kilometer, sebutnya.
Kemungkinan besar lain yang bisa menciptakan tsunami adalah jika terjadi patahan di dasar laut secara vertikal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. Apabila mekanisme patahan horisontal, maka kemungkinan terjadi tsunami sangat kecil.
Selain gempa tektonik yang diakibatkan oleh patahan, gempa juga bisa ditimbulkan oleh letusan gunung api atau gempa vulkanik. Di wilayah kepulauan Maluku sendiri terdapat sembilan gunung api yang cukup aktif, tiga diantaranya berada di dasar laut.
Siklus gunung api di Maluku di atas 20 sampai 50 tahun. Siklus yang panjang ini, menurut Benny, justru lebih berbahaya karena menyimpang tenaga yang cukup besar di dalam perut gunung api. Jika suatu saat terjadi letusan, maka letusannya akan sangat dasyat.
Dari sembilan gunung api aktif ini hanya dua yang mempunyai pos pengamatan, yaitu Gunung Worwali di Pulau Damar Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Gunung Api Banda di Pulau Banda Kabupaten Maluku Tengah. Gunung-gunung ini sekarang statusnya aktif normal. Jadi belum ada tanda-tanda keaktifan yang meningkat. Kedua gunung api ini berada di dekat pemukiman sehingga diprioritaskan untuk penempatan pos pengamatan.
Siklus gunung api antara 20 tahunan maka akan meletus kembali. Yang paling terakhir meletus adalah Gunung Api Banda yakni pada tahun 1989. Dari catatan saat ini semua masih aktif normal, dimana kegempaannya baik vulkanik maupun tektonik masih normal.
Potensi bahaya yang kemungkinan terjadi akibat letusan gunung api jangan dipandang sebelah mata. Perlu ada kewaspadaan dini. Karena potensinya bahayanya bisa sangat tinggi. Ini disebabkan siklus dari gunung-gunung api di Maluku sangat panjang sehingga apabila terjadi letusan maka dia akan sangat ekslusife. Gunung api ini diprediksi akan mengeluarkan lahar dan lava dengan sangat besar.
Gunung-gunung api ini harus terus dipantau. Jika intensitas gempanya sudah cukup banyak dan skalanya besar maka statusnya bukan lagi aktif normal tetapi aktif, dan apabila keaktifannya sudah mulai meningkat berarti penduduk di sekitarnya harus segera diungsikan.
Di Pulau Ambon sendiri terdapat 10 zona garis patahan. Tiga diantaranya berada pada daerah pemukiman padat penduduk. Jalan Pattimura Ambon naik sampai ke kawasan Batumeja masuk dalam salah satu zona patahan itu. Yang lebih rawan lagi adalah daerah Poka-Rumahtiga karena dilalui tiga garis patahan.
Ketiga garis patahan itu berada di Tanjung Marthapons, di belakang Poka Rumahtiga dari Waiyame melintang garis patahan sampai ke Telaga Kodok dan patahan dari Waiyame naik ke arah Utara Pulau Ambon. Dengan kondisi seperti itu membuat kawasan ini sangat rawan. Patahan-patahan ini akan aktif kalau terjadi gempa besar.
Ada tiga jenis gempa berdasarkan keaktifannya yakni gempa yang sudah tidak aktif, berpotensi aktif, dan gempa aktif. Di Maluku belum dijumpai gempa aktif. Namun di Pulau Ambon misalnya, masuk dalam kategori patahan-patahan berpotensi aktif dimana jika terjadi gempa besar bisa menimbulam bencana.


sumber:http://amyaldo.blogdetik.com/2011/01/22/sejarah-gempa-bumi-dan-tsunami-di-maluku/

tempat wisata maluku

Daftar Seluruh Tempat wisata di Kepulauan Maluku - Maluku adalah propinsi tertua diIndonesia dengan Ibukota Ambon. Suku bangsa Maluku didominasi oleh suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik. Mayoritas penduduk di Maluku memeluk agama Kristen dan Islam. Dalam masyarakat Maluku dikenal suatu sistem hubungan sosial yang disebut Pela dan Gandong. Pariwisata Malukuberisikan objek dan daya tarik maupun mengunjungi Maluku, merupakan kenyataan-kenyataan potensi kepariwisataan yang begitu menjanjikan terutama bagi wisatawan, saatnya datang berkunjung menyaksikan keindahan alam meliputi : Tersedia daya tarik alam bawah laut sesuai dengan karakteristik wilayah Maluku sebagai daerah kepulauan, Gunung api, Daerah perbukitan Pemandangan alam, Teluk, Danau dan Keramah-tamahan masyarakat Maluku yang sudah dikenal sejak dahulu dengan tradisi masyarakat yang menganggap Wisatawan Sebagai Raja.
Sejak zaman purba kala, Maluku diakui telah memiliki daya tarik alam selain daripada rempah-rempahnya. Terdiri dari ratusan kepulauan membuat Maluku memiliki keunikan panorama disetiap pulaunya dan mengundang banyak turis asing datang untuk mengunjungi bahkan menetap di kepulauan ini. Selain objek wisata alam, beberapa peninggalan zaman kolonial juga merupakan daya tarik tersendiri karena masih dapat terpelihara dengan baik hingga sekarang. Bahkan dibeberapa daerah, pariwisatanya sudah terkenal sampai ke mancanegara. Beberapa dari objek wisata terkenal di Maluku antara lain :
Peta Maluku
Peta Maluku
  1. Taman Laut Manuala
  2. Pantai Pasir Panjang
  3. Pantai Natsepa, Ambon
  4. Pintu Kota, Ambon
  5. Benteng Duurstede, Saparua
  6. Benteng Amsterdam, Ambon
  7. Benteng Victoria, Ambon
  8. Banda Neira, Banda
  9. Benteng Belgica, Banda
  10. Pantai Hunimoa, Ambon (Pantai Liang)
  11. Pantai Ngur Sarnadan (Pasir Panjang), Kai
  12. Pantai Ngurtafur, Pulau Warbal, Kai
  13. Gua Ohoidertavun di Letvuan, Kai
  14. Sawai, Seram Utara
  15. Leksula, Buru
  16. Pantai Latuhalat, Ambon
  17. Tanjung Marthafons, Ambon
  18. Taman Nasional Manusela, Seram
  19. Air Terjun Waihetu, Rumahkay, Seram
  20. Pantai Hatuurang
  21. Pantai Lokki, Seram
  22. Pantai Englas, Seram
  23. Pantai Labuan Aisele, Seram Utara
  24. Pantai Ora, Saleman, Seram Utara
  25. Pulau Kasa, Seram
  26. Pulau Pombo
  27. Pulau Tiga
  28. Pulau Luciapara
  29. Pulau Ay, Run dan Rozengain (Hatta), Kepulauan Banda
  30. Weluan, Kep. Tanimbar
  31. Pulau Bais
  32. Tanjung Sesar, Seram
  33. Pulau Panjang, Pulau Lulpus dan Pulau Garogos
  34. Gunung Booi
  35. Kilfura, Seram
  36. Pantai Soplessy, Seram
  37. Pantai Manuala
  38. Gua Lusiala, Seram
  39. Pantai Kobisadar
  40. Ahuralo, Amahai
  41. Batu meja masahatu, hualoy-seram
  42. Gua Hutan Kartenes
  43. Goa Akohy di Tamilouw, Seram
  44. Benteng Titaley, Seram
  45. Danau Binaya, Piliana
  46. Tawiri, Ambon
  47. Pemandian Air Panas Tulehu, Ambon
  48. Sungai kali ama,hualoy-seram
  49. pantai maruru,hualoy-seram
Sumber:http://yoshiewafa.blogspot.com/2013/03/daftar-tempat-wisata-di-pulau-maluku.html