1

Welcome to My Blog Gladys Suwandi

Senin, 24 Februari 2014

SITUS SEJARAH GEREJA TUA DI KEPULAUAN BANDA, MALUKU




SEJARAH GEREJA TUA DI BANDA NEIRA
Kepulauan Banda yang terdiri dari 13 buah pulau dengan luas keseluruhannya ≤ 44 Km³ dan menempatkan Neira sebagai Ibu Kota Kecamatan. Kota Neira dibangun oleh Portogis pada awal 1500-an dan kira-kira seabad sesudah itu, kemudian dikembangkan oleh Belanda. Keunggulan yang dimiliki oleh Banda Neira adalah taman laut yang indah, banyak terdapat bangunan bangunan bersejarah dan budaya yang beranekaragam, juga bentangan alam yang sangat mempesona yang dikelilingi oleh bentangan gunung berapi. Hal inilah, yang membuat PPB menetapkan Banda Neira sebagai salah satu Kota Wisata Dunia.

Gereja tua “Hollandische Kerk” di Banda Neira, dibangun tahun 1600-an yang pada saat itu menjadi kebaggaan kota Neira. Akibat gempa bumi yang dahsyat, gereja “Hollandische Kerk” mengalamikehancuran dan sebagai gantinya pada tahun 1852dibangunlah gereja yang ada sekarang ini. Pelayanan rohani selama colonial Belanda pada abad ke-17 dilaksanakan dalam bahasa Belanda pada setiap hari minggu pagi dan dalam bahasa melayu pada sore hari. Lokasi gereja ini terdapat di dalam suatu taman yang pernah terpelihara dengan baik di abad ke-17, yaitu di sekitar benteng Nassau. Lantai gereja terbuat dari batu-batu Nisan granit yang berjumlah kurang lebih 22 buah yang di atasnya terpahat dengan indah nama pemuka/orang terpandang/pejabat Belanda maupun Perkenier Banda dari abad-abad sebelumnya, yang dimakamkan dibawah batu-batu granit tersebut. 
Menurut fersi yang lain, mengatakan bahwa Gereja tua tersebut dibangun pada tanggal 20 April 1873, peresmian penggunaannya pada tanggal 23 Mei 1875 oleh dua orang penginjil yakni Lantzius dan John Hoeke. Selanjutnya gedung ini dibangun di atas 30 kuburan serdadu Belanda yang gugur dalam perang untuk menaklukan Banda. Pada lantai gereja terlihat ada 30 buah Batu Nisan dari 30 orang serdadu Belanda, lengkap dengan identitasnya. 
Dalam Gereja ini masih terdapat beberapa Allkitab tua, yang berasal dari abad ke-18. Pada salah satu pintu depan, masih terlihat lambing VOC. Lonceng tua Gereja ini terbuat dari tembaga dan masih digunakan hingga saat ini. Menurut cerita, bahan lonceng semacam ini tersisa hannya 4 buah di seluruh dunia. 

GERAJA TUA DI PULAU AY
Pulau Ay terletak di sebelah Barat Pulau Neira yang terletak diantara pulau Gunung Api dan Pulau Rhun. Penduduknya merupakan campuran Jawa, Buton, dan lain-lain. Menurut sejarah bahwa pembantaian tahun 1621, penduduk asli Pulau Ay telah melarikan diri ke pulau-pulau lain. Di sini terdapat sisa-sisa reruntuhan Mesjid Tua dan Gereja Tua. Gereja Tua tersebut berada disamping pekuburan Eropa, Gereja ini dibangun pada tahun 1611 dan selesai pada tahun 1617, sebelum pembantaian. Nama Gerejanya adalah “Bethlehem”. Gereja ini dibangun pada masa Gubernur Jenderal I Belanda “Pieter Borh”. Gedung tersebut harus dibongkar pada tahun 1842 karena konstruksinya suda membahayakan. Sedangkan Gedung Gereja yang dibangun pada tahun 1853 juga difungsikan sebagai sekolah. Namun kemudian sekolah untuk para pribumi dibangun agak lebih jauh ke timur. Bentuk bangunannya kecil saja dan hannya memiliki satu orang guru dan beberapa orang murid. 
Lonceng gereja yang asli dibawa pergi oleh penduduknya pada saat melarikan diri. Lonceng gereja yang kemudian digunakan adalah lonceng dari “Perak Werwachting” tanpa tanggal. Sesuai sebuah buku berbahasa Belanda tentang Kepulauan Kei oleh Pastor Geertjens,M.Sc (Uit een Ureemde Wereld), lonceng Gereja tersebut di bawah ke Banda Eli di Kepulauan Kei dan ditukar dengan sebidang tanah untuk bermukim. 

Sumber:http://historya-magistravitae.blogspot.com/2009/06/situs-sejarah-gereja-tua-di-kepulauan.html

Sejarah moyang maluku

Terungkapnya keberadaan orang Israel di Maluku ini dimulai dari penelitian penulis mengenai asal-usul nenek moyang penulis sendiri, yaitu penduduk awal (mula-mula) Pulau S’rua yang adalah pulau ketiga dari Kepulauan Teon, Nila, S’rua (TNS). Namun ternyata penelitian ini meluas ke kebudayaan Maluku secara keseluruhan.
Menurut Resley, bila selama ini umat Kristiani Maluku menyebut diri mereka dengan sebutan Israel tanpa rasa takut, menggunakan simbol-simbol Israel, dan cenderung bertingkah laku seperti orang Israel, dan membela Israel mati-matian; hal tsb bukanlah sekedar fanatisme iman mereka semata, namun juga timbul karena dorongan dari dalam hati mereka. Hal ini disebabkan karena berdasarkan hasil penelitiannya cukup banyak ditemukan persamaan antara bahasa, adat-istiadat (kebudayaan), serta peninggalan orang Maluku yang memiliki kemiripan dengan suku bangsa Yahudi. Dengan kata lain, nenek moyang orang Maluku adalah bangsa Yahudi.
Resley mengatakan bahwa jauh hari sebelum bangsa Arab dan bangsa Eropa mengenal Maluku (Arab tiba pertengahan abad ke-14, Portugis tiba awal abad ke-15) telah ada bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengenal Maluku, termasuk bangsa China.
Orang Israel (Ibrani) masuk ke Maluku melalui India dan China. Karena pada tahun 605 SM dari Kerajaan Yehuda (Kerajaan Selatan) ditaklukkan dan diangkut ke pembuangan di daerah Media dan Persia (Iraq dan Iran). Saat Kerajaan Persia berkuasa, kekuasaannya meliputi Etiopia (Afrika) sampai ke India. Bahkan sejak tahun 722 SM, Kerajaan Israel (Kerajaan Utara) yang terdiri dari 10 suku telah lebih dahulu diangkut oleh bangsa Asyur, kemudian diserakkan di berbagai bangsa di daerah kekuasaan Asyur dan saat bangsa Romawi menjajah Palestina dan Asia Tengah sejak tahun 63 SM sampai munculnya agama Kristen pada abad 1 M, ketika itu jalan-jalan raya dibangun, sehingga memungkinkan bagi seseorang untuk mencapai seluruh bagian kerajaan ini dengan mudah. Orang Israel tersebar hampir di semua kota di dalam wilayah kekaisaran Romawi sebagai pedagang (Pengantar PB hal. 4-5) dan pada saat ini terjadi hubungan dagang yang sangat baik antara dunia barat (Kerajaan Roma) dengan dunia timur (Kerajaan China).
Pada saat menjadi bagian dari kekaisaran Roma inilah para pedagang bangsa Ibrani tiba di Maluku bersama mitra dagang kerajaan Roma yaitu para pedagang bangsa China. Salah satu bukti kuat bahwa pada abad ke-1 M rempah-rempah dari Maluku pernah dijual di Yerusalem, adalah karena pada tahun 33 M, beberapa orang wanita Yahudi yaitu: Maria Magdalena dan teman-temannya membeli rempah-rempah di pasar Yerusalem untuk mengawetkan jenazah Yesus (Markus 16:1).
Peluang lain orang Israel tiba di Maluku adalah pedagang-pedagang Israel datang sendiri ke Maluku setelah mengetahui jalan ke Maluku dari para pedagang bangsa China.
Dalam buku Sejarah Maluku hal. 19 dikatakan bahwa kata Maluku berasal dari kata “Maloko” yang merupakan sebutan gelar bagi Kalano (kepala daerah) . Nah, kata “Maloko” ini menurut Resley berasal dari bahasa Ibrani. Sebutan bagi raja dalam bahasa Ibrani adalah “Melek” atau “Melekh”. Bentuk yang lebih kuno adalah “Maliki” (EKAMK II hal. 292), sehingga dalam Tambo Dinasti Tang di China (618-906) “Maluku” tercatat sebagai “Miliku”, yaitu suatu daerah yang dipakai sebagai patokan penentuan arah ke kerajaan “Holing” (Kalingga) yang ada di sebelah barat.
Kata lain yang mirip dengan Maloko adalah “Molokh” yaitu ilah yang disembah bani Amon. Bentuk Ibrani nama ini ialah “Molek”. Dalam kitab suci Perjanjian Lama, Molek umumnya memiliki kata sandang (Imamat 18:21; 20:2-5, 2 Raja-raja 23:10, Yeremia 32:35). Kata “Molokh” pada ayat-ayat tsb menyiratkan bahwa kata itu mungkin merupakan kata umum bagi orang yang memerintah (EKAMK II hal. 93). Dengan demikian, maka gelar Maloko yang dikenakan bagi seorang Kalano adalah berasal dari budaya dan bahasa Ibrani. Dan kata Molekh (Moloch) dalam bahasa Ibrani artinya raja. Maloko kemudian disebut Maluku (Molokhus). Dan memang kepulauan Maluku artinya kepulauan raja-raja.
Selain itu menurut Resley, kata “Alifuru” yang merupakan sebutan bagi orang yang pertama kali mendiami Maluku bukan berasal dari bahasa Arab (Alif). Sebab jauh hari sebelum pengaruh Arab (Islam) masuk ke Maluku pada pertengahan abad ke XIV, sudah ada bangsa yang mendiami kepulauan Maluku yang penyebarannya dimulai dari Nusa Ina dan Halmahera yang mana disebut oleh antropolog AH. Keane, FJP. Sachese dan OD. Tauren dengan sebutan suku bangsa “Alfuros”.
Kata Alfuros ini sangatlah tidak mungkin diambil dari kata Alifuru, sekalipun kata ini menunjuk pada pengertian manusia mula-mula. Sebab bila kata Alifuru ini dikaitkan dengan kata Maloko, Baeleu, dan Seniri, serta budaya kepala suku, yaitu Alluf, maka sangatlah tidak cocok.
Kata Alif muncul setelah masuknya bangsa Arab ke Maluku. Tetapi sebelum itu, kata Alfuros ini menunjuk kepada nama suku bangsa yang telah ditemukan oleh para ahli, yaitu “ALUNE” yang ada baik di Nusa Ina (Seram) dan Halmahera yang memiliki budaya atau system pemerintahan “ALLUF” yaitu: kepemimpinan berada di tangan “kepala kaum/kepala suku”. Budaya ini mula-mula diterapkan oleh bangsa “Edom”: yaitu keturunan Esau, saudara Yakub (Israel) anak Ishak, di Maluku disebut mata rumah (kepala kaum), kepala Soa dan kepala suku.
Alluf dalam pengertian Ibrani adalah:
- Panglima, pemimpin (Kamus Singkat Ibrani-Indonesia hal. 11)
- Kepala-kepala kaum di Edom yang di kemudian hari disebut “Raja” (Kejadian 36:19, 31)
Pada bagian akhir dari bukunya, Resley mengatakan bahwa mayoritas orang Maluku adalah merupakan keturunan dari suku Gad, yaitu suku Israel yang telah disangka hilang dan tak dapat ditemukan lagi. Inilah satu-satunya suku yang tidak memiliki perwakilan di Israel saat ini. Terbukanya pintu gerbang emas (golden gate) serta terpenuhinya nubuat kedatangan Kristus yang kedua kalinya untuk memerintah dunia dari Yerusalem hanya terpenuhi jika kedua belas suku telah berkumpul di tanah Zion (Israel), yang mana termasuk di dalamnya adalah suku Gad, yang pada akhirnya diistilahkan Resley dengan sebutan Yahudi Alfuros.


Sumber:http://media.kompasiana.com/buku/2011/10/31/ternyata-moyang-orang-maluku-adalah-bangsa-yahudi-406217.html

Perkembangan islam di maluku

mengembangkan Risalah Islam dan memperkenalkan/mendidik mereka mengenal “ALLAH SWT” melalui maqam Tauhid yang 4 (empat) yaitu : ALLAH.
Selanjutnya burung Merak (Garuda) berkepala dua itu berenang di dalam 7 (tujuh) laut yaitu : (1), Laut akal. (2), Laut pikir. (3), Laut sabar. (4), Laut tawakkal. (5), Laut ilmu. (6), laut roh. Dan (7), lLaut hikmah. Bertepatan dengan perintah dari nama yang terpuji nama Muhammad, Rasulullah SAW sebagai sumber Risalah Islam, maka pada seketika itu juga “Tanah Besar GAPI” (Al Ghafilin) mengalami goncangan gempa bumi yang cukup dahsyat disertai guntur dan halilintar sambar-menyambar dengan hujan deras dimalam yang gelap gulita itu ditambah pula dengan gelombang pasangnya yang menakutkan sehingga penduduk negeri Tanah Gapi lari meninggalkan rumah tempat tinggal mereka dan berkeliaran karena ketakutan. Disana-sini terdengar rintihan tangis baik anak-anak, laki perempuan, tua maupun mudah karena isteri dan anak, ibu maupun berpisah seketika bahkan anak didalam kandungan dilahirkan ibunya seketika. Wanita yang hamil keguguran, rumah penduduk dan pepohonan ada yang tumbang dan lain-lain sebagainya.
Goncangan tanah Gapi mengisyaratkan akan kehadiran “Waliyullah” Imam Ja’farus Shadiq ke tempat itu sebagaimana isyarat “Ihram”, mi’raj dan munajat yang mewujudkan “Tabdil” setelah melewati tujuh alam dalam perjalanan “Mi’raj” yang sempurna dan kemudian berenang dalam tujuh laut (telaga Qalam) memungkinkan “penyatuan” kembali karena sesuatu “karana” dari sifat maani dan harus dari sifat Maanawiyah yang sangat kaya akan zat-Nya yang wajibul ujud dan amat kuasai dengan sifat ilmu-Nya qadim mengamanatkan kepada hambanya sebagai anugerah untuk dapat mengenal-Nya dan disembah-Nya. Maka terlimpahlah NUR itu kembali menjadi “rahasia” dari pada manusia untuk hidup dan mengenal akan dirinya, bahwa ia menyimpan dan berusaha menggalinya, karena sesungguhnya manusia adalah rahasia dari pada Allah SWT dan rahasia sifat itu ialah : Kodrat, iradat, ilmu, hayat, sama’a, basyar dan kalam yang  dikarenakan oleh sesuatu, karena dari sifat Kadirun, Muridun, Aliimun, Hayyun, Sami’un, Basyirun dan Mutakallimun. Maka hiduplah manusia karena anugerah itu yang dahulu mati kemudian dan akan mati kembali. “Inna Lillahi Wa inna Illahi Raaji’un”.
Terlimpahnya NUR karena “Tabdil” dari NUR yang menyerupai burung merak (Garuda) berkepala dua terganti/tertukar dengan mewujudkan kembali karena kekuasaan Allah SWT yang maha Besar menjadi “INSAN” manusia “Imam Ja’far Ash Shadiq” disebut dalam versi bahasa Ternate dengan “FORAMADIAHI” artinya tertukar, sama dengan “Tabdil” dan turun kembali ke alam insan atau alam dunia ini disuatu tempat yang kemudian menjadi nama tempat itu dengan “FORAMADIAHI” yang kini ditempat itu menjadi sebuah kampung kecil di Ternate, sedang peristiwa itu terjadi Ternate sendiri belum ada, karena belum terjadi lagi peristiwa pecahnya “Tanah Gapi”.
Menjelang pagi setelah redanya gempa bumi dan badai, menyusul Fajar pagi diufuk Timur (bandingkan dengan peristiwa diatas) menandakan akan munculnya “Matahari” pagi, tampaklah ditepi pantai “FORAMADIAHI” seorang laki-laki yang gagah perkasa mengenakan “Jubah dan Sorban” yang berwarna putih bersih, melangkah dengan penuh keyakinan menuju kedarat sambil sesekali melepaskan pandangan kesamping kiri dan kanan, melihat kalau-kalau ada orang lewat ditempat itu. Sementara itu pula ada beberapa orang pribumi telah lebih dahulu melihat dan menyaksikan keadaan diri sang “Waliyullah” Imam Ja’farus Shadiq” dan mereka berkata bahwa dia ini “TUHAN” dan tidak salah lagi, sebab tidak ada yang dapat mampu menggoncang Tanah Gapi dan menghembuskan badai seperti pada malam tadi itu, kecuali “TUHAN” dan dia inilah sebab kehadiran dan keberadaannya sangat berbeda dengan kita. Akhirnya, terlihat juga sang Waliyullah kepada rombongan mereka dan beliau memanggil dengan bahasa Tanah Gapi (Ternate) dengan fasih untuk mendatangi beliau sang Waliyullah Ja’farus Shadiq dan segera mereka mencium tangan beliau dan menyebut “Ya Jou Giki Amoi” artinya Ya Tuhan Yang Maha Esa, kami menyembah (JOU SUBA), karena harumnya yang semerbak mereka tidak lagi mau melepas tangan dan akhirnya memeluk beliau dan mencium sepuas-puas hati mereka. Mereka berjalan bersama sang Waliyullah dan yang lainnya berusaha memanggil masyarakat untuk berkumpul karena telah hadir ditengah-tengah kita “TUHAN” (Giki Amoi) yang nanti menjadi Kolano Matiti (Penguasa) untuk memerintah kita dan memberikan kita ilmu yang banyak, Imam Ja’farus boleh dikata Lambang Nasional dan Spiritual sebab kehadirannya terlalu luar biasa yang dalam legenda tradisional dikenal sebagai “jou/Kolano Matiti” artinya inti pokok yang sabdanya sendiri menjadi hukum dan undang-undang yang harus dijalankan.
Sejarah islam barangkali belum pernah mencatat tentang masuknya Islam di Maluku (Al Mamlakatul Mulukiyyah) dengan pelaku sejarahnya “Imam Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainul Abidin, bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib pada kira-kira 125 H atau 744 M.
Sejarah perjuangan Imam Ja’far Ash Shadiq lebih banyak dikenal di Medinah dan Irak sekitarnya dalam usaha mengembalikan citra Islam yang telah dikaburkan oleh orang-orang Arab sendiri. Sedangkan hijrahnya ke Al Ghafilin (Gapi) sampai terbentuknya pemerintahan “Al Mamlakatul Mulukiyyah” jelas tidak akan diketahui orang sebab perjalannya melalui “Mi’raj” yang dimulai dari “GUA TSUR” kemudian diperjalankan dan Allah SWT memberkahi sekelilingnya tanda-tanda kekuasaan-Nya yang selanjutnya menjadi dasar perjuangannya dan berakhir di Al Ghafilin (GAPI), tepatnya di FORAMADIAHI pada awal “FAJAR” sekaligus melaksanakan Shalat Shubuh (bandingkan Namanya, Shalatnya dan waktu subuhnya) adalah “Totalitas” yang bukan lain daripadanya. Satu kemungkinan yang barangkali dapat diterima akal manusia ialah selama masa persembunyian beliau yang jelas tidak diketahui orang, kecuali Allah SWT karena “kodrat dan Iradat-Nya” untuk mengembangkan Islam dan Risalahnya di Timur Jauh yang dimulainya di Al Ghafilin (GAPI). Kemungkinan yang lain ialah bahwa Imam Ja’far sendiri tentu tidak akan memberitahukan persembunyiannya dan maksud hatinya sendiri, kecuali kalau para ilmuan dan ahli-ahli sejarah Islam kembali mengkaji dan mengartikan maksud dari sebuah “Hadits” Nabi SAW. Yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut :
“ Akan datang suatu zaman (Sya’ti zamani) Dia (Ja’far Ash Shadiq) dari keturunanku dikemudian hari melalui anakku (Putriku) Fatimatuz Zuhriyyah, akan membuat perubahan yang besar di Timur, (sambil jari telunjuk Nabi SAW menunjuk ke arah Timur)”.
Hubungkan hadits ini dengan isyarat wahyu Allah SWT kepada Nabi ketika bersama sahabat “ABU BAKAR RA” di Gua Tsur tempo dulu. Siapa saja, boleh tidak menerima sepanjang dapat memberikan alasan-alasan dan argumen-argumen yang tepat dan dapat diterima akal yang sehat dan jangan karena didorong oleh nafsu atau karena sesuatu kepentingan.
Al Ghafilin dan Gapi versi Ternate, barangkali merupakan bukti kebenaran itu, karena selain mempunyai arti yang sama yaitu “yang dilupakan” juga ucapannya yang hampir bersamaan. Begitu pula kalau kita melirik bukti yang lain seperti yang terdapat dalam bagian awal dari Firman Allah SWT berikut ini : “Tubaddilul Ajasadu” dan kata “FORAMADIAHI” yang juga mengandung arti yang sama yaitu “Tergantu atau tersalin”. Sebuah ungkapan dalam bahasa tradisional Ternate yang diciptakan oleh Imam Ja’far Ash Shadiq sekaligus membenarkan pengetahuan Ushuluddin dengan Empat Maqam Tauhid, ialah berbunyi sebagai beriku :
“ NAKO KOKO TOMA SIFAT GE TOMA ZAT MA GONAGA
Artinya ; Apabila berdiri “sifat” itu kepada “zat”.
Selanjutnya maka  :     -     Kodrat Menjadi Kadirun
-       Iradat menjadi Maridun
-       Ilmu menjadi Aliimun
-       Hayat menjadi Hayyun
-       Syama’a menjadi Syamii’un
-       Basyaar menjadi Basyiirun
-       Kalam menjadi Mutakallimun
Sifat “MA-ANI” yang dikarenakan oleh sifat “MAANAWIYAH” yaitu sifat yang melajimi sifat Maanawiyah menjadi nama zat itu, karena kaya akan zat Allah sehingga berlajim-lajiman, sebagaimana besi disepuh api dimanakah besi dan dimana pula api.jadi itulah besi dan itu pula api. Tiada perbedaan keduanya.
“ JAGA ELI LAHA-LAHA SENIRONGA MAANAWIA “
Artinya “ Ingatlah baik-baik, karena namamu Maanawia”
“ TO TUM NGOLO KADIM TO SIBALA RAHASIA ”
Artinya : Aku tenggelam/berenang dilaut Kadim, dan saya timbul didalam rahasia
Itulah tujuh laut yaitu : Laut Akal, alaut Pikir, laut Ilmu, laut Sabar, laut Tawakkal, laut Roh dan Hikmah, kemudian ia bersabda didalam rahasia-Nya (Kebaqaan Allah).
Firman Allah : Wa fi An Fusikum afala tubairun
Artinya :

Inilah beberapa bukti tentang kehadiran Imam Ja’far Ash Shadiq di Tanah GAPI (AL GHAFILIN), tegasnya di Al Mamlakatul Mulukiyyah atau Maluku sekarang ini. Ia diperjalankan dengan ilmu Allah SWT karena “kodrat dan iradat” dan ia memiliki kemampuan ilmu yang luar biasa baik dalam bentuk bahasa agama maupun dalam bentuk bahasa tradisional (Ternate) yang khas dan semua itu adalah firman dan hadits-hadits “qudai” yang disusun dalam bahasa tradisional Ternate oleh “Imam Asy Syarief Rafi’ah Tasyriiful Ja’far Ash Shadiq sebagai Lambang Kesultanan Al Mamlakatul Mulukiyyah”. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan Agama Tauhid ini, namun hanya sebagai perkenalan dan sekedar membuktikan kehadiran beliau di Maluku Utara yang selanjutnya sebagai sumber “Embrio” atau “Sumber Keturunan” para Sultan turun-temurun yang telah memenuhi Bumi Persada Nusantara ini, bahkan sampai keluar negeri.
“ DARA TOLEFO MAPILA SORO GUDU TO NONAKO “
Artinya       :     Burung dara yang telah aku tuliskan pada sayapnya, sekalipun ia telah terbang jauh aku tetap mengenalnya
Kalimat tersebut mengandung dua sasaran pengertian yaitu :
Pertama     :     Bahwa Allah SWT perlu dan harus dikenal, karena awal agama itu mengenal akan Allah-Taala
Kedua         :     Bahwa keturunanku telah Aku beri tanda (ilmu dan hikmah sekalipun keturunan yang sudah jauh turun-temurun, tetapi Aku akan mengenal mereka
“ DARA NGORI RI PIARA, GE SORO YORI DAGO-DAGO “
Artinya       :     Burung dara yang Aku pelihara, sekalipun kemudian ia terbang, tetapi ia akan tetap dalam kecintaanku karena belahan jantungku.
Kalimat ini mengibaratkan bahwa Allah SWT tetap bersama aku sampai pada akhirnya Aku wafat kembali ke Rahmat Allah. DIA tetap bersama aku.
Dalam pengertiannya yang lain, bahwa keturunanku yang aku pelihara sejak kecil, sekalipun mereka sudah menurunkan keturunannya yang banyak dan terpencar-pencar ke negeri-negeri lain, namun mereka adalah kecintaanku, buah-buah hatiku dan bagian dari aku.

1.    Imam Ja’far Ash Shadiq dan Halifatullah
Sebuah “Nama” yang sangat terkenal pada zamannya, tidak saja karena perjuangannya, tetapi lebih dari itu (Ia) sangatlah masyhur dan sangat disegani baik kawan maupun lawan. Ia memiliki ilmu yang tinggi yang diperolehnya dari ayahnya dan nenek-neneknya sampai kepada moyangnya yang Mulia dan Terpuji, nama “Muhammad” Nabi bagi sekalian mu’min dan penghulu dari sekalian Nabi-Nabi.
Namanya asli ialah “Abu Abdillah” alias Ja’far Ash Shadiq adalah gelarnya yang sangat terkenal itu, baik didunia Arab maupun di bangsa “Ajam”. Syai’ah menggolongkan beliau sebagai imam keenam dari “Itena Al Asy’Ariyah” kalangan imam dua belas dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW. Dia bukan saja “Bapak/Ayah” dari Musa Al Ka Ali Uraidhy, Abdullah, Abu Bakar dan Ismail serta lain-lainnya. Tetapi juga dari : Putri Boki Mariana, Putra Kacili Syayyed Muhammad Al Baqir, Putra Kacili Syayyed Akhmad Sani, Putra Kacili Syayyed Muhammad Nukil, Putri Boki Segar Nawi, Putri Boki Sahar Nawi, Putri Boki Sadar Nawi, Putri Boki Sitti Dewi dan Putra Kacili Syayyed Muhammad Nurus Syafar alias Bab Mansyur Ms Lamo.
Di Maluku Utara terkenal dengan nama Ja’farus Shadiq atau Ja’far Noh. Beliau sehari-hari menggunakan bahasa Gapi atau bahasa Ternate sehingga ilmu yang diterapkannya dengan mempergunakan bahasa Ternate. Dia sangat disanjung oleh masyarakat Gapi waktu itu sebagai lambang Maloku Kie Raha yang diwujudkan dengan “GARUDA KEPALA DUA”. Kemampuannya dalam bidang ilmu dan hikmah. Dia dikenal pula sebagai “Kololi Kie Waliyullah JAOHAR” bahkan dijuluki sebagai “Lunas dari Bahtera Noh” yang jadi pulau Halmahera. Dikatakan “Kololi Kie” karena beliau keliling dunia bukan dengan kapal atau perahu, tetapi dengan “Kasyayaf” atau gaib kemudian kembali lagi ke Tanah Gapi. Jumlah 9 (sembilan) orang putra-putri beliau inilah yang kemudian dijadikan dasar pemerintahannya sebagai kepala (Pemimpin) dari S atau Marga (Teon) atau Negeri Sembilan, yang di Jawa dikenal Wali Songo. Dimana saja negeri-negeri yang menggunakan Marga/Wali sembilan ini adalah dari keturunannya.

Sumber:http://puspitafitridotcom.wordpress.com/2011/04/05/sejarah-peradaban-islam-di-maluku/

Kebudayaan Maluku


Rumah Adat Maluku
Jika anda memasuki daerah di Maluku, salah satu hal yang segera nampak menonjol adalah satu bangunan yang berbeda dengan rumah lain. Bangunan ini biasanya berukuran lebih besar, dibangun dengan bahan-bahan yang lebih baik, dan dihias dengan lebih banyak ornamen.Karena itu, bangunan tersebut merupakan landmark Maluku.Di Maluku, disebut sebagai “Baileo”, secara harafiah berarti “balai”.Warga Maluku menggunakan istilah “baileo”,karena memang baileo digunakan sebagai “balaibersama” untuk membahas masalah yang mereka hadapi dan mengupayakan pemecahannya.
BatuPamali, sebuah batu besar tempat meletakkan sesaji di muka pintu sebuah bangunan di Maluku merupakan tanda bahwa bangunan tersebut adalah Balai Adat. Baileo inilah yang menjadi bangunan induk Anjungan.Sembilan tiang di bagian depan dan belakang, serta lima tiang di sisi kiri dan kanan merupakan lambing Siwa Lima, simbol persatuan Maluku.
Baileo sebagai bangunan induk tidak berdinding.Adapula baileo yang lantainya di atas semen dan baileo yang lantainya rata dengan tanah.Baileo yang paling lazim dan khas adalah yang lantainya dibangun di atas tiang.Jumlah tiangnya melambangkan jumlah klen-klen yang ada didesa tersebut.Baileo tidak berdinding agar roh-roh nenek moyang mereka bebas masuk keluar.Baileo dibuat tinggi dimaksudkan agar kedudukan tempat bersemayam roh-roh nenek moyang lebih tinggi dari tempat berdiri rakyat di desa.Selain itu rakyat akan tahu permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah keatas.
Baileo yang ada di Taman Mini Indonesia Indah adalah bentuk baileo yang terakhir atau yang baru yang melambangkan persatuan antara dua klenbesar di Maluku yaitu PataSiwa dan Pata Lima.Hal ini melambangkan jumlah pada tiang baileo di bagian depan dan belakang berjumlah 9(siwa) dan samping kiri dan kanan berjumlah 5(lima).
Siwa lima bagi masyarakat dari Maluku mempunyai arti yang mendalam yaitu: Kita semua adalah punya dan menjadi lambing kesatuan dan persatuan daerah Maluku.

Tari Daerah Maluku
-Tari Katreji
Tari Katreji adalah tarian asal Portugis dipakai untuk acara ramah tamah
-Tari Dansa Tali
Tari dansa tali merupakan tarian dansa yang menggunakan tali. Tarian tersebut merupakan peninggalan seni budaya dari penjajah bangsa Portugis.
-Tari Orlapei
Tari orlapei merupakan salah satu peninggalan seni budaya dari Portugis yang berfariasi.
-Tari Sau Reka-Reka
Tari sau reka- reka atau disebut juga tari gaba-gaba. Menggunakan gaba-gaba yang berjumlah 4 buah yang dipukul sebagai alunan musik dalam tari ini, mulai dari tempo yang lambat sampai cepat.
-Tari Lenso 
Tarian Lenso adalah tarian muda-mudi dari daerah Minahasa (sulut) dan daerah Maluku,Tarian Lenso ini biasanya dibawakan secara ramai-ramai atau berkelompok apabila ada pesta.Baik pesta Pernikahan, Panen Cengkeh, Tahun Baru dan kegiatan-kegiatan lainnya.Tarian ini juga sekaligus ajang Pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang.
-Tari Cakalele
Cakalele merupakan tarian tradisional khas Maluku.Tari Cakalele dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari laki-laki mengenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah dan kuning tua. Di kedua tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) di sisi kanan dan tameng (salawaku) di sisi kiri, mengenakan topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Sedangkan para penari perempuan menari dengan mengenakan pakaian warnaputih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya.
Dalam tarian Cakalele ini, para penari melakukan tarian yang diiringi dengan music tifa, suling, music beduk (tambur) dan kerang besar (bia) yang ditiup. Tari Cakalele disebut juga dengan tari kebesaran, karena digunakan untuk penyambutan para tamu agung seperti tokoh agama dan pejabat pemerintah yang berkunjung ke bumi Maluku.
Keistimewaan tari Cakalele ini terletak pada tiga fungsi simbolnya, yaitu:
a. Warna merah pada kostum penari laki-laki, menyimbolkan rasa heroism terhadap bumi Maluku, serta keberanian dan patriotisme orang Maluku ketika menghadapi perang.
b. Pedang pada tangan kanan para penari laki-laki menyimbolkan harga diri masyarakat Maluku yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan.
c. Tameng (salawaku) dan teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian menyimbolkan gerakan protes terhadap system pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepada masyarakat.

Pakaian Adat
Pakaian Baju Cele Kain Salele
Baju cele ini bermotif garis – garis geometris/berkotak – kotak kecil.Bajucele in biasanya dikombinasikan dengan kain sarung yang warnanya tidak jauh berbeda, yang penting harus seimbang dan serasi apabila dikenakan.
Baju cele ini dipakai juga dalam upacara – upacara adat (acara pelantikan raja, acara cuci negeri, acara pesta negeri, acara panas pela dll.) dan di kombinasi dengan kain yang pelekat yang disalele yaitu disarung dari luar dilapisi sampai batas lutut dan dipakai lenso (saputangan yang diletakan di pundak).
Pakaian ini dipakai tanpa pengalas kaki atau boleh juga pakai selop. Konde/sanggul yaitu konde bulan yang diperkuat lagi dengan tusukan konde yang disebut haspel yang terbuat dari emas atau perak.
Senjata Daerah       
Maluku mempunyai senjata tradisional yang terkenal yaitu Parang Salawaku.Parang Salawaku sudah merupakan satu paket senjata tradisonal Maluku. Senjata ini terdiri dari parang dan perisai.Parang berarti pisau besar, biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari pisau, namun lebih pendek jika dibandingkan dengan pedang.Sawalaku sendiri memiliki arti perisai.
Parang Sawalaku sering dipergunakan oleh penduduk asli Maluku dalam berperang melawan musuh contohnya saat Kapitan Patimura dan rakyatnya perang melawan tentara Belanda.Pada masa sekarang Parang Salawaku biasanya dipergunakan untuk melengkapi pakaian penari dan atau untuk upacara perkawinan.
Parang biasanya terbuat dari bahan besi yang keras berukuran 90 sampai dengan 100 cm, ukuran ini disesuaikan dengan tinggi badan si pemilik. Jadi sangat beragam ukurannya. Parang ini juga memiliki kepala yang terbuat dari kayu keras, seperti kayu besi.
Salawaku terbuat dari kayu yang dilapisi oleh pernak-pernik khusus yang diberi motif untuk menghiasinya. Tidak sembarang motif yang dipergunakan dan biasanya motif yang berlambangkan keberanian. Simbol keberanian inimembuat penggunanya memiliki keberanian yang sama dalam berperang melawan musuh. Motif-motif indah yang menghiasi Salawaku ini terbuat dari kulit kerang laut.
Proses yang  terpenting dalam pembuatannya adalah ketika senjata ini dimantrai oleh Kapitan atau panglima perang. Dengan mantra ini, konon membuat Parang Salawaku tidak dapat tembus oleh peluru, karenanya para prajurit Kapitan Patimura berani maju melawan penjajah Belanda untuk melakukan perlawanan.

Alat Musik
TIFA, merupakan alat musik khas dari Maluku dan Papua. Tifa mirip dengan alat musik gendang yang dimainkan juga dengan cara dipukul. Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. Setiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khasnya masing-masing.
TIFA biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya seperti tari Lenso dari Maluku yang diiringi juga dengan alat musictoto buang, tarian tradisional suku Asmat dan tari Gatsi.
Alat music tifa dari Maluku memiliki nama lain, seperti tahito atau tihal yang digunakan di wilayah-wilayah Maluku Tengah. Sedangkan, di pulau Aru, tifa memiliki nama lain yaitu titir. Jenisnya ada yang berbentuk seperti drum dengan tongkat yang seperti yang digunakan di Masjid .Badan kerangkanya terbuat dari kayu yang dilapisi rotan sebagai pengikatnya dan bentuknya berbeda-beda berdasarkan daerah asalnya.

Lagu Daerah
  • Ayo Mama
  • O Ulate
  • Sarinande
  • Goro-gorone
  • Nona Manis Siapa Yang Punya
  • Dll
 AYO MAMA
ayam hitam telurnya putih
mencari makan di pinggir kali
sinyo hitam giginya putih
kalau ketawa manis sekali
   ayo mama, jangan mama marah beta
dia cuma cuma pegang beta
ayo mama, jangan mama marah beta
lah orang muda punya biasa

sumber:http://arvyndilawijaya.wordpress.com/2013/03/19/kebudayaan-maluku-2/

KESENIAN DAN KEBUDAYAAN MALUKU UTARA


Maluku utara adalah surga tropis di Indonesia bagian timur. Inilah tempat wisata bahari, budaya, purbakala, sejarah, dan ada istiadat. Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yaitu Bacan, Jailolo, Ternate, dan Tidore.

Ibu kota Maluku Utara terletak di Sofifi, Kecamatan Oba Utara. Sejak 4 Agustus 2010 daerah ini menggantikan kota terbesarnya, Ternate, yang berfungsi sebagai ibu kota sementara selama 11 tahun untuk menunggu kesiapan infrastruktur di Sofifi.

Provinsi Maluku Utara terdiri dari 395 pulau besar dan kecil yang tersebar di perairan yang menakjubkan. Pulau yang telah dihuni sebanyak 64 buah dan yang tidak dihuni sebanyak 331 buah.


Palau Bobale, Halmahera Utara, Maluku Utara, Indonesia
Salah satu pulau yang tidak berpenghuni adalah Pulau Dodola. Pulau ini adalah contoh dari pantai tropis yang indah. Pasir putih seluas 16 km mengelilingi pantai dengan airnya yang jernih. Di pulau ini, pengunjung dapat melakukan banyak kegiatan menarik seperti berenang, berjemur, dan menyelam. Pulau Maitara juga menawarkan kehidupan laut yang fantastis. Pulau ini terletak di tengah Pulau Tidore dan Ternate.
Maluku Utara memiliki objek wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias beragam jenis. Wisata alam seperti batu lubang tersebar hampir di seluruh wilayah. Ada juga hutan wisata sekaligus taman nasional dengan spesies endemik ranking ke 10 di dunia.
Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun di perairan laut seperti Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu dan Cagar Alam di Pulau Seho.
Kawasan Cagar Alam Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalaan tersebar di wilayah Provinsi Maluku Utara meliputi cagar alam budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Halmaerah Utara.

Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km². Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km² (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan.

Perekonomian daerah sebagian besar bersumber dari perekonomian rakyat yang bertumpu pada sektor pertanian, perikanan dan jenis hasil laut lainnya.

Daya gerak ekonomi swasta menunjukkan orientasi ekspor, antara lain:

  • Pengolahan Kayu (Pulau Halmahera)
  • Falabisahaya (Pulau Mangoli)
  • Perkebunan Pisang di Galela (Pulau Halmahera)
  • Perikanan dengan melibatkan perikanan rakyat oleh PT. Usaha Mina (BUMN) di Panamboang (Pulau Bacan)
  • Tambang Emas oleh PT. Nusa Halmahera Mineral di Kao dan Malifut (Pulau Halmahera)
  • Tambang Nikel oleh PT. Aneka Tambang di Pulau Gebe dan Pulau Pakal
  


Dalam dunia internasional provinsi Maluku lebih di kenal sebagai Moluccas. Ibukota Maluku adalah Ambon. Pada tahun 1999 provinsi Maluku di mekarkan menjadi 2 provinsi menjadi Maluku dan Maluku Utara yang beribukota di Sofifi. Seperti apa kebudayaan daerah yang ada di Maluku? Baca juga Budaya Maluku Utara Seni Kebudayaan Tradisional Daerah Malut.



Yuk kita kenali Seni dan Kebudayaan Daerah Maluku yang menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia



  • Alat Musik Daerah Maluku : Tifa merupakan alat musik yang paling terkenal dari Maluku. Alat musik ini bentuknya menyerupai kendang dan terbuat dari kayu yang di lubangi tengahnya. Ada beberapa macam jenis alat musik Tifa seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.

    Alat musik lainnya yang berasal dari Maluku adalah Toto Buang dan Kulit Bia. Alat musik ini merupakan serangkaian gong-gong yang kecil bentuknya dan biasanya di taruh pada sebuah meja dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Sedangkan alat musik Kulit Bia merupakan alat musik tiup yang terbuat dari Kulit Kerang.

  •  
    Tari Cakalele merupakan nama tarian yang paling populer dan terkenal dari Maluku. Taian ini menggambarkan Tari perang. Tari ini sering di pentaskan dan di peragakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai).
      






    Nama tarian lain yang berasal dari Maluku adalah tari Saureka-Reka dan tari Katreji. Tari Katreji dimainkan oleh wanita dan pria. Saat memainkan Tarian ini diiringi berbagai alat musikseperti biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar.




    • Bahasa Daerah Maluku 

    Karena provinsi Maluku memiliki banyak sekali pulau, di sini juga terdapat berbagai macam bahasa. Tapi bahasa yang dipakai di Maluku adalah jenis Bahasa Melayu Ambon, yang masih satu dialek bahasa Melayu.

    Berikut ini nama-nama bahasa yang berasal dari Maluku :

    1.  Bahasa Seti ada di daerah suku Seti, di Seram Utara dan Telutih Timur 

    2. Bahasa Alune ada di daerah Seram Barat 

    3. Bahasa Nuaulu dipakai oleh suku Nuaulu di Seram selatan; antara teluk El-Paputih dan teluk Telutih

    4. Bahasa Wamale ada di daerah Seram Barat





http://nisaatitaley.blogspot.com/2013/11/kesenian-dan-kebudayaan-maluku-utara.html